Tua-Tua Keladi Tua-Tua Bawal

Tua-Tua Keladi Tua-Tua Bawal

Desember 17, 2022 0 By Kusfandiari MM Abu Nidhat

Estuman Kusfandiari MM Abu Nidhat

Bagi Guru Galib, tiada hari tanpa kegembiraan. Pendeknya setiap hari, selalu saja ada yang membuatnya gembira. Sebab gembira cermin pribadi yang bahagia. Pun di sela-selanya ditemukan canda tawa. Ia suka menertawakan keadaan. Ia pun suka membongkar kekurangan diri sendiri untuk dibuat anekdot, joke, atau humor. Baginya, gembira merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam upaya meningkatkan imunitas jiwa dan raganya.

Salah satu pepatah yang dipakai pegangan Guru Galib, yaitu “Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi.” Ya makin tua makin banyak makan garam. Makin tua makin berisi, makin tua makin penuh karbohidrat. Namun, tidak cukup sampai di situ, perlu ditambah,”Tua-tua bawal, makin tua makin tidak mau kalah dengan generasi milenial.” Makin tua makin meningkat protein yang dikandung. Makin tua makin bertambah wawasannya. Makin tua makin tak terbendung upaya berliterasinya. Sombong amat! Tidak juga, sebab ia punya pandangan tersendiri dan jauh dari sikap jumawa.

Kamsudnya, Guru Galib tidak mau ketinggalan dengan memanfaatkan fasilitas digital yang tersedia di jagad maya. Opini-opininya mengalir deras di esai-esai yang setiap hari ia susun. Tinggal ia unggah di media sosial yang tersedia. Namun, kelemahannya ia gagap di fasilitas digital. Kelebihannya, ia tidak malu bertanya. Baginya malu bertanya, sesat di belantara jagad maya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa manakala berhadapan dengan gadget dan widget.

Jika sebelumnya, Guru Galib berorientasi pada produktivitas puisi dan cerita pendek, kini ia mengalihkan orientasinya kepada esai. Bukan karena kehabisan ide, tetapi lebih mengarah kepada perluasan wawasan. Baginya, ternyata menulis esai merupakan keasyikan tersendiri. Genre yang sama sekali berbeda dari tulisan-tulisan sebelumnya. Ada semangat dan kegairahan tersendiri untuk mengolah segala sesuatu yang ditangkapnya. Betapapun tulisannya merupakan klaim dari opini pribadi dan jauh dari pengaruh orang-orang sekitar.

Oleh sebab itu, ketika marak tulisan yang akan dijadikan antologi buku ber-ISBN harus diunggah terlebih dulu di jagad maya, Guru Galib tidak segan-segan bertanya kepada yang muda. Bertanya kepada siapapun yang mumpuni IT. Meski, ia merasa ragu-ragu dalam melakukan eksekusi dan bertanya untuk langkah yang sama. Semoga “teman muda yang ditanyai” tidak merasa bosan dan bersedia melayani gapteknya.

Salah satu di antara temannya, ialah Yudha Istira Pandulu. Penjelasannya ringkas dan mudah dipahami, sehingga Guru Galib langsung bisa mengeksekusi. Penjelasannya lancar, runtut, dan tidak tumpang tindih, sehingga Guru Galib benar-benar terbimbing untuk segera mengunggah tulisan.

Berikutnya “Keladi di belantara, bawal di pantai, bertemu dalam kancah cita rasa kuliner. Menanak nasi kebuli, buahnya buah bisbul. Beragam latar belakang kompetensi bertemu dalam wadah gerakan pemasyarakatan minat baca, berkiprah bersama membangun pribadi berliterasi. Makin tua makin berliterasi, makin tua makin unggul.”  Jauh dari sikap jumawa, sejatinya Guru Galib hanya menunjukkan dan memberikan contoh kepada generasi muda, generasi milenial bahwa generasi terdahulu bisa mengikuti zaman. Dengan harapan, generasi yang datang kemudian juga harus bisa menghadirkan produk-produk literasi dengan segala variasinya.

Pangkur – Ngawi, 20221217.14440523.14.18

Penulis tinggal di Pangkur, Budayawan, di GPMB Ngawi sebagai Penasihat.